Selasa, 19 April 2016

Jangan Salah Mengambil Teman

gambar: koleksi pribadi

يَاوَيْلَتَى، لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا

“Wah celaka besar aku, Seandainya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku” (QS. Al-Furqan [25] : 28)
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluq yang tidak dapat hidup sendiri, dia membutuhkan makhluk lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk mengambil keputusan, ia akan selalu memerlukan teman; teman hidup, teman berbicara, teman berfikir, teman bersiyasah, teman berjuang, dan teman dalam kasab. Pada dasarnya kita bebas memilih teman-teman itu, apapun tingkat sosialnya; miskin, kaya, pejabat, rakyat. Namun kita tidak bisa bebas memilih teman dari tingkah laku, kebiasaan dan akhlaqnya. Islam melarang umatnya untuk bergaul dengan orang-orang kafir, musyrik, zhalim, orang-orang jahat, yahudi, kristen dan syetan. Teman pergaulan itu akan mempengaruhi corak kehidupan kita, bahkan sedikit banyak akan mengikuti kebiasaan-kebiasaannya.
            Rasulullah saw memberi perumpamaan, “Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang jahat seumpama penjual minyak minyak kasturi dan peniup kir (pandai besi); Bila engkau bergaul dengan penjual minyak wangi nantinya engkau akan diberi, atau tertarik untuk membeli darinya, atau sekurang-kurangnya engkau akan mencium bau yang harum. Dan bila engkau bergaul dengan tukang pandai besi mungkin bajumu akan terbakar atau engkau akan mencium asap yang jelek.” (HR. Bukhary)
            Persahabatan itu akan mencuri tabi’at, Al-Mushohabatu tasriqu th-thobiy’ah. Apabila kita ingin mengetahui tabi’at atau kebiasaan seseorang jangan ditanya nasabnya tetapi lihatlah qarin-nya (temannya); dengan siapa dia hidup, apa kebiasaan temannya. Contoh yang paling berpengaruh adalah bahasa, sebab ia harus berkomunikasi dengan temannya. Tidak mungkin ia akan bisa tahan hidup di tempat yang tidak dimengerti bahasanya. Apabila ingin mensholehkan akhlak kita, maka harus bergaul dengan orang-orang sholeh. Perhatikan pula anak-anak kita, dengan siapa mereka berteman.
            Allah menggambarkan nasib orang yang memusuhi ulama dan menjauhi orang-orang yang shaleh kelak di akhirat, “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata : Aduhai kiranya dulu aku mengammbil jalan bersama-sama Rasul. “Wah celaka besar aku, Seandainya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku” (QS Al-Furqan : 27-28). Ia menjadikan orang kafir, dan syetan sebagai khalilnya.
            Pada (QS 4 : 69). Allah menggambarkan keni’matan hidup berteman dengan orang-orang yang baik, “Dan siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan sama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah. Yaitu : para nabi, shidiyqiyn, para syuhada serta orang-orang yang sholeh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”

Senin, 18 April 2016

Keutamaan Mengurus & Mendidik Anak

Diakhirat kelak, anak akan jadi pengangkat derajat orangtuanya di surga, serta jadi perisai bagi orngtuanyadari neraka. Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الجَنَّةِ فَيَقَوْلُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُوْلُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Lalu hamba tersebut bertanya, Ya Rabb, dari manakah aku memperoleh semua ini? Allah menjawab, ini berkat istighfar anakmu untukmu” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرٍيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ يَمُوْتُ لَهَا ثَلَاثَةٌ مِنْ الوَلَدِ اِلَّا كَانُوْا لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ أَوْ اثْنَانِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ اثْنَانِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian yang kematian tiga orang anaknya, melainkan anak-anaknya itu akan jadi perisai baginya dari neraka. Kemudian seorang wanita dari mereka bertanya, kalau dua orang anak bagaimana? Rasulullah saw menjawab, sekalipun hanya dua orang anak” (HR Muslim dan Ahmad)

Kaum Jahiliyyah, merasa hina, jika istri-istri mereka melahirkan anak perempuan. Anak perempuan dianggap sebagai pembawa beban nafkah yang berat bagi keluarganya, hanya memdatangkan kesulitan dan permasalahan di kemudian hari.

Pada masa Fir’aun, anak perempuan dibiarkan hidup, karena mereka akan dijadikan sebagai komoditas, pemenuh syahwat kaum Adam.

Risalah yang dibawa oleh Muhammad saw, mengajak umat manusia untuk memuliakan hak wanita, diantaranya dengan memberikan keutamaan bagi setiap orang yang mau bersabar dalam mengurus dan mendidik anak-anaknya terutama anak perempuan


Dari Uqbah bin Amir ra, dari Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan, lalu ia bersikap sabar terhadap mereka, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” (HR Ahmad dan At-Thabrany)

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan, lalu ia melindunginya, menyayanginya dan mengurusnya, maka ia pasti masuk surga”. Lalu ditanyakan kepada beliau, bagaimana kalau dua orang? Beliau menjawab, “meskipun dua orang”. Ia berkata, sebagian orang mengira, kalaulah mereka mengatakan bagaimana jika seorang pasti beliaupun akan menjawab meskipun hanya seorang. (HR Ahmad)

Dari Siti Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari urusan anak-anak perempuan ini, lalu ia tetap memperlakukan mereka dengan baik, maka kelak mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” (HR Mutafaq ‘alaih)

oleh: Ahmad Solihin, S. Thi
Penulis: Mikail